Investasi traveling? Mungkin ada di antara Anda yang mengernyitkan alis ketika membaca judul posting ini. Saya juga menunjukkan reaksi serupa ketika membaca editorial sebuah majalah di ruang tunggu Bandara Soekarno-Hatta. Waktu itu, bersama seorang teman saya hendak terbang ke Kuala Lumpur.
Investasi traveling yang menjadi judul editorial itu memang masih terdengar asing buat telinga saya. Seperti biasa, kalau berhadapan dengan hal baru seperti ini saya jadi penasaran. Saya pun langsung melalap tulisan tersebut. Yang menjadi pokok bahasan dalam tulisan tersebut, ternyata, tanpa saya sadari, sudah saya lakoni beberapa tahun terakhir ini.
Investasi traveling yang dimaksudkan di sini tidak lain dari upaya kita untuk menyiasati biaya, yang sering terasa membebani pada saat kita melakukan traveling dengan pesawat udara, apakah itu pada saat mudik lebaran atau plesiran. Saya sendiri pernah terpaksa harus membayar Rp 2,5 juta untuk bisa terbang ke Bali saat libur Lebaran.
Anda pasti tahu, pada masa-masa liburan seperti itu atau bahkan setiap akhir pekan, harga tiket cenderung mengalami kenaikan, sebab pada saat-saat seperti itu jumlah orang yang melakukan traveling dengan pesawat udara sangatlah banyak.
Dari pengalaman yang cukup bikin sesak dada itu, saya kemudian selalu menempuh cara memesan tiket beberapa bulan di depan bahkan pernah setahun sebelumnya. Dengan cara seperti ini, saya selalu bisa membeli tiket promo yang harganya sangat murah.
Tahu nggak, untuk libur Lebaran tahun ini saya sudah memiliki tiket pulang-pergi yang saya pesan pada bulan Februari yang lalu. Mau tahu berapa harganya? Cuma Rp 770.000,- Bandingkan dengan harga tiket di atas yang pernah membuat saya sesak dada. Dengan melakukan investasi traveling Rp 770.000,- beberapa bulan sebelum hari H, saya sudah meraih gain (bursa efek kalee…) sebesar 224,67% untuk bisa menutup ongkos tiket yang seharusnya saya tebus dengan harga Rp 2,5 juta. Sangat menarik kan?
Bagi Anda yang baru tahu mengenai investasi traveling ini, coba segera dipraktekkan. Memang, untuk bisa mendapatkan tiket dengan harga sangat miring seperti ini, diperlukan kartu kredit karena Anda akan melakukan booking tiket secara online. Kalau pun tidak punya kartu kredit, Anda masih bisa mendatangi agen penjualan tiket dan melakukan booking di sana. Cuma saja Anda akan membayar sedikit lebih mahal (paling sekitar Rp 50.000,-) untuk mengganti ongkos cetak tiket dan akses internet mereka.
Memang, belum semua maskapai penerbangan menyediakan kemudahan seperti ini. Untuk bisa mengetahui lebih jauh, Anda bisa melakukan pencarian di internet. Adapun maskapai penerbangan yang menjadi favorit saya dalam melakukan traveling adalah Air Asia. Tapi, mohon jangan berprasangka, saya tidak menulis posting ini untuk Air Asia.
Nah, tunggu apa lagi? Selamat melakukan investasi traveling. Semoga perjalanan Anda mengasyikkan.



04.47.00
Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar
tinggalkan sepatah kata dan komentarnya....